Kajal Barait

 

Noorhalis Majid

(Paribasa dan ungkapan Banjar, refleksi budaya)


Entah cocok atau tidak, entah sesuai atau bertentangan, yang penting usulkan – sampaikan, kemukakan agar bisa diterima - diikut sertakan. Inilah bentuk upaya, terkesan egois, ingin menang sendiri, hanya memetingkan pendapatnya, tanpa mempedulikan apapun, memaksa agar semuanya masuk, itulah yang dimaksud kajal barait.


Terus menerus memaksa untuk masuk, begitu arti harfiahnya. Seperti memasukan seluruh barang pada sebuah karung, semuanya dipaksa masuk, tanpa menyusunnya dengan rapi. Tidak mempertimbangan muat atau tidak, pokoknya barang apapun masuk pada karung tersebut. Ilustrasi ini dipinjam untuk melihat fenomena sosial, bahwa ada saja yang tidak mau peduli dengan lingkungan sekitar, yang penting miliknya bisa diakomodir. Setiap ada kesempatan, langsung mengusulkan diri. Sedikit ada peluang, segera mengajukan usulan. Bahkan sebanyak mungkin mengusulkan – mengajukan, sampai tidak ada ruang bagi yang lain.


Dampaknya bisa positif, bisa pula negatif. Yang positif memaknainya sebagai satu bentuk kegigihan, keuletan, tidak pernah putus asa – pantang menyerah. Sekali ditolak, ajukan yang kedua, ketiga, keempat, kelima, sampai terakomodir - diterima. Tidak peduli respon pihak yang menerima, pokoknya sudah berusaha berkali-kali, berharap bisa disetujui.


Yang negatif memaknainya sebagai wujud ingin menang sendiri, egois, ingin selalu diakomodir, tidak mempedulikan cocok atau tidak, sesuai atau berbeda. Hanya miliknya saja yang ada, tidak peduli soal berbagi, apalagi mengakomodir yang beragam. 


Ungkapan ini memberikan pelajaran, bahwa ada kalanya harus gigih memperjuangkan sesuatu. Kegigihan tersebut sebagai upaya merebut ruang - kesempatan. Apalagi ketika ada yang mendominasi “ruang”, maka diperlukan orang-orang yang gigih – ulet, sehingga ruang yang eksklusif tersebut dapat terbagi merata. Di era politik dominasi, memerlukan keuletan untuk menerobosnya.


Pelajaran kedua, dalam soal apapun, perlu ada aturan main, sehingga tidak ada yang bersikap egois – memaksakan kehendak. Kalau semua kesempatan dimenangkan oleh yang gigih mengusulkan, maka yang pasif boleh jadi tidak terakomodir, padahal bisa saja yang pasif lebih baik, lebih berkualitas.Aturan main yang adil, membuat semua memperoleh kesempatan, tidak ada dominasi, tidak pula sekehendak hati, apalagi sampai kajal barait. (nm)

Lebih baru Lebih lama