Memperketat Pengawasan Protokol Kesehatan di Pasar Tradisional

  

Kondisi salah satu sudut pasar tradisonal di Handil Bakti, Kecamatan Alalak, Barito Kuala, yang berbatasan langsung dengan Kota Banjarmasin, pada jam-jam tertentu padat pengunjung saling berdesakan berbelanja

BORNEOTREND.COM - Meski belum ada data yang valid terkait penyebaran virus Covid-19 di sejumlah pasar tradisional yang ada di Banjarmasin dan kota lainnya Kalimantan Selatan, namun sejumlah orang meyakini wilayah ini berpotensi sebagai wilayah yang berisiko terjadinya penularan. Hal itu disebabkan pengawasannya yang tidak bisa maksimal dan banyaknya orang dari berbagai golongan berkumpul di pasar yang sering disebut sebagai “pasar tungging” tersebut oleh orang Banua.  


Di pasar tradisional juga sulit bagaimana menjaga jarak antara pembeli yang datang karena sifatnya sangat terbuka. Sebelumnya Dinas Perindustrian dan Perdagangan Banjarmasin mengklaim sebanyak 35 pasar tradisional sudah patuhi protokol kesehatan (prokes), namun masih lemahnya pengawasan protokol kesehatan di pasar tradisional ini masih banyak dikeluhkan. 


Salah satunya disampaikan oleh Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Banjarmasin, M Yamin, yang berharap Pemerintah Kota Banjarmasin dapat memperketat protokol kesehatan (prokes) di pasar-pasar tradisional guna menekankan laju penyebaran Covid-19.  “Jangan hanya di kafe atau restoran saja yang diperketat terkait prokesnya, tapi di pasar tradisional juga harus. Apalagi di pasar itu padat, orang kadang berdesakan,” tegas M Yamin.


Ia menilai secara umum baik pedagang maupun pengunjung pasar memang sudah memiliki kesadaran menerapkan disiplin prokes, tapi tidak dipungkiri sebagian kecil diantaranya masih ditemukan pelanggaran, seperti tidak menggunakan masker. “Ini yang menjadi PR pemerintah kota. Menertibkan pasar-pasar yang ada. Memfasilitasi sarana untuk menekan penyebaran Covid-19, seperti penyediaan tempat cuci tangan dan imbauan menjaga jarak,” jelasnya.


Perhatian dan himbauan untuk menekankan perlunya pengetatan pengawasan pasar tradisional tidak hanya di Kota Banjarmasin, tetapi juga di wilayah-wilayah kabupaten/kota lainnya di Kalimantan Selatan. 


Seperti di Kabupaten Balangan, Satgas Covid-19 di kabupaten ini juga beberapa waktu lalu melakukan kegiatan turun ke lapangan melakukan pengawasan dan himbauan kepada sejumlah kafe dan pasar tradisional yang ada di sana.


Ada beberapa lokasi yang mejadi sasaran pemantauan, tempat-tempat yang menimbulkan kerumunan, seperti di Pasar Paringin,” ujar Kasi Kerja Sama Satpol PP Balangan, Ansari Asthami, yang mengakui kegiatan tersebut dalam rangka penegakan Perbup Nomor 67 Tahun 2020 tentang penerapan Protokol Kesehatan dalam pencegahan penularan Covid-19.  


Di Kota Banjarbaru melalui aparat kepolisian di sana juga dilakukan imbauan edukasi tentang prokes di pasar tradisional di Jalan Golf Kelurahan Landasan Ulin Utara, Kecamatan Liang Anggang pada Senin (24/5/2021).  “Seluruh personil Polsek Banjarbaru Barat selalu malaksanakan patroli rutin baik siang ataupun malam sambangi warga memberikan imbauan kepada masyarakat guna memutus mata rantai penyebaran Covid-19,” ucap Kapolsek Banjarbaru Barat Kompol Andri Hutagalung, S.Ab, M.AP.


Ketaatan Prokes Tentukan Kasus Covid-19 

Sebelumnya anggota Tim Pakar Universitas Lambung Mangkurat (ULM) untuk Percepatan Penanganan Covid-19 Hidayatullah Muttaqin SE, MSI, Pg.D menyebut menurunnya ketaatan masyarakat menerapkan prokes memicu ledakan kasus Covid-19 di Kasel pada Maret 2021 lalu. "Berdasarkan data laporan monitoring kepatuhan protokol kesehatan tingkat nasional di bulan Maret yang diterbitkan oleh Satgas Covid-19 pusat, tingkat kepatuhan warga Kalsel dalam mengenakan masker dan menjaga jarak semakin menurun jauh di bawah tingkat kepatuhan nasional," ujarnya.


Ia menambahkan, kondisi di bulan Maret 2021 lalu sangat memprihatinkan, ada sejumlah 6.048 warga yang dikonfirmasi positif, sementara pada bulan Februari jumlahnya 3.760 orang. Sedangkan kasus kematian, sepanjang Maret ada 106 orang meninggal. Jumlah ini lebih tinggi 31 persen dari kasus kematian di Februari dan lebih banyak 71 persen dari kasus di Januari.


Hidayatullah Muttaqin menduga penularan Covid-19 banyak terjadi di kalangan ibu-ibu rumah tangga yang memicu munculnya klaster keluarga. Ada hal yang mendasarinya, pertama, mobilitas penduduk yang berkaitan erat dengan ibu-ibu rumah tangga, yakni kegiatan berbelanja di pasar tradisional, supermarket dan toko bahan makanan. Kemudian, data sebelum bulan Maret menunjukkan adanya peningkatan kasus pada kelompok umur 31-45 tahun yang berjenis kelamin wanita.

Beberapa pengunjung dan pedagang di pasar tradisional Handil Bakti (Barito Kuala) masih ada yang tidak memakai masker

Di beberapa pasar tradisional, baik yang ada di Kota Banjarmasin maupun wilayah tetangganya, seperti Kecamatan Alalak-Handil Bakti, Kabupaten Barito Kuala, juga terlihat pemandangan masih banyaknya warga/pembeli maupun pedagang yang tidak mematuhi prokes, seperti tidak memakai masker dan pembeli yang sifatnya datang dari berbagai arah tidak lagi menjaga jarak.     


“Ya sulitlah untuk diatur, apalagi tanpa diawasi, orang masih merasa leluasa dan aman berbelanja berdesakan di pasar ini. Padahal pandemi Covid-19 ini belum berakhir. Jadi, sebaiknya harus ada petugas yang selalu memberi imbauan dan membagikan masker bagi pengunjung atau pedagang yang tidak memakai masker,” ucap Hadi, salah satu pengunjung pasar tradisional atau pasar rakyat di kawasan Handil Bakti, Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala yang berbatasan langsung dengan Kota Banjarmasin pada Minggu (30/5/2021).  


Penulis: Sri Mulyani/Hendra Riffanie/Khairiadi Asa







Lebih baru Lebih lama