![]() |
| Noorhalis Majid (Paribasa dan ungkapan banjar, refleksi budaya) |
Kalau ingin sempurna hasil pekerjaan, waktu mengerjakannya efisien dan efektif, kerjakan sesuai tahapan dan urutannya. Jangan asal mengerjakan, mulailah dari awal hingga akhir, jangan ada terloncat – tertinggal. Kalau dikerjakan secara sembarangan, karena ketiadaan ilmu dan pengetahuan, serta kurangnya perencanaan, ditambah minimnya waktu menyelesaikan, itulah yang dimaksud bagawi tapangkung-pangkung.
Bekerja terburu-buru, mungkin begitu arti yang tepat dari ungkapan ini. Pangkung berarti pukul, dipangkung, artinya dipukul. Tapangkung-pangkung, menggambarkan situasi yang tidak ideal, tidak nyaman. Situasi yang menyebabkan segala sesuatunya berjalan tidak normal, akhirnya tidak sempurna, mungkin seperti kena pukul bertubi-tubi - babak belur, hasilnya tidak beraturan.
Bukan hanya bekerja dalam pengertian fisik. Berbicara tanpa urutan dan bersiapan yang jelas, juga bisa tapangkung-pangkung. Tiba-tiba mendadak diminta naik panggung, menyampaikan sambutan atau pidato. Tidak tahu apa yang akan disampaikan, berbicara saja apa adanya, sekenanya, hingga akhirnya tidak beraturan sama sekali – tapangkung-pangkung.
Seringkali, situasi tidak memungkinkan untuk bekerja dengan hikmat - melalui perencanaan, serta persiapan yang matang. Keadaanlah yang memaksa, membuat semuanya terpaksa tapangkung-pangkung. Ditambah akibat kurang ilmu, sedikit pengalaman, dan minimnya sumber daya serta fasilitas, mengakibatkan tidak dapat melakukan satu pekerjaan yang sifatnya dadakan - spontan.
Ungkapan ini memberikan nasehat agar mampu bekerja sesuai tahapan dan proses yang benar. Minimal mengikuti proses baku manajemen, dimulai dengan perencanaan. Kalau perencanaannya matang, berarti separuh penyelesaian pekerjaan. Bila perencanaan sudah disusun sebaik-baiknya, lanjutkan dengan pengorganisasian, yaitu mempersiapkan siapa yang akan mengerjakan apa. Kalau dikerjakan oleh satu organisasi yang rapi, segala perencanaan akan sangat mudah diselesaikan. Tahap berikutnya, barulah melaksanakan pekerjaan, lalu mengawasi, menjaga kualitasnya tetap terjamin, sehingga saat evaluasi dapat dinilai apakah hasilnya sesuai rencana atau tidak.
Ungkapan ini juga memberikan pelajaran agar mempersiapkan segala kemungkinan yang bersifat emergensi. Kalau situasi memaksa dan mendesak, maka sudah tersedia hal-hal bersifat emergensi. Dalam manajemen kebencanaan, biasa disebut dengan emergency response, yaitu mempersiapkan segala kemungkinan yang tidak terduga, agar pada saatnya tiba, jangan sampai bagawi tapangkung-pangkung. (nm)
